Posts

NONE 2 (PANO)

  PANO   Gracia menyeruput capuccino yang mulai dingin. Lalu meletakkan cangkirnya kembali. “Sean, kapan ya kak Hesa nembak aku? Atau aku aja yang nembak kak Hesa?” celetuknya. Sean menringis, ada perasaan sakit dalam tubuhnya saat Gracia mengatakan kalimat tersebut. “Mending aku aja yang mebak kamu, terus kita pacaran, atau langsung aja aku minta kamu ke orang tua kamu. Gimana? Daripada kamu nembak kak Hesa terus ditolak.” Lontar Sean. Sean tidak berbohong saat mengatakan Gracia bisa saja ditolak Mahesa. Karena yang Sean tahu, Mahesa menganggap Gracia sebagai adiknya sendiri. Bibir Gracia mengerucut dan mencebik, kepalanya sedikit menunduk menatap cangkir yang isinya hampir kosong. “Apaan sih Sean! Aku kan sukanya ke kak Hesa bukan kamu.” “Kalau aku yang suka kamu gimana? Apa aku harus nembak kamu? Atau nunggu kamu tiba-tiba suka aku, terus nembak aku?” Sean menatap Gracia dengan tajam, menekankan seluruh kalimanya. Bermaksud mengungkapkan perasaannya secara gam...

NONE 1

Created : 26 November 2022 Lagu Surrender dari Natalie Taylor terputar dengan merdu. Aku menatap pantulan cahaya dari laptop di depanku. Kata-perkata kuketikkan di dalam kolom denga tulisan 'Apa yang sedang terjadi?', lalu ku klik 'Tweet'. Dan postingan itu terkirim. Aku membacanya ulang, namun aku tidak menyesal. Ungkapan-ungkapan bermakna kesedihan telah kubagikan ke sosial media bergambar burung biru tersebut. Dalam hati terdalam aku meminta maaf kepada Tuhan karena melanggar janji untuk tidak membagikan postingan berisi kesedihan.  "Ya Tuhan maafkan aku. Maaf jika aku tidak bisa menahan semua gejolak ini. Rasa lelah telah membuatku kalah atas kesakitan hati yang ku rasa. Logikaku telah kalah telak." Tetes demi tetes telah keluar dari mataku.  Ya, aku menangis. Aku gagal mempertahankan dinding pembatas yang telah aku bangun dari lama. Dinding ini telah retak. Tidak. Bukan retak. Tapi hancur. Seakan dinding itu ada didepanku yang terduduk lemas.  Gumaman dar...