NONE 2 (PANO)
PANO
Gracia menyeruput capuccino yang mulai dingin. Lalu meletakkan
cangkirnya kembali.
“Sean, kapan ya kak Hesa nembak aku? Atau aku aja
yang nembak kak Hesa?” celetuknya.
Sean menringis, ada perasaan sakit dalam tubuhnya saat
Gracia mengatakan kalimat tersebut.
“Mending aku aja yang mebak kamu, terus kita
pacaran, atau langsung aja aku minta kamu ke orang tua kamu. Gimana? Daripada kamu
nembak kak Hesa terus ditolak.” Lontar Sean. Sean tidak berbohong saat
mengatakan Gracia bisa saja ditolak Mahesa. Karena yang Sean tahu, Mahesa
menganggap Gracia sebagai adiknya sendiri.
Bibir Gracia mengerucut dan mencebik, kepalanya
sedikit menunduk menatap cangkir yang isinya hampir kosong. “Apaan sih Sean! Aku
kan sukanya ke kak Hesa bukan kamu.”
“Kalau aku yang suka kamu gimana? Apa aku harus nembak
kamu? Atau nunggu kamu tiba-tiba suka aku, terus nembak aku?” Sean menatap
Gracia dengan tajam, menekankan seluruh kalimanya. Bermaksud mengungkapkan perasaannya
secara gamblang.
Gracia terdiam tidak berani menatap Sean. Tahu kalua
lekaki di depannya sedang marah. Gracia tidak menampik fakta jikalau Sean
menyukainya sejak lama. Namun, Gracia tetap kekeh menyukai Mahesa.
Siapa yang bisa dengan mudah memutar perasaan suka,
jelas tidak ada, bukan? Dan kemungkinannya sangat kecil. Begitupun dengan
Gracia. Dia tidak mudah memutar perasaan sukanya terhadap Mahesa, lalu menyukai
Sean.
Helaan nafas terdengar. “Kamu udah berkali-kali
kayak gini Sean. Akunya yang nggak enak nolak kamu terus. Kamu nggak mau
berhenti?” tanya Gracia lirih. Gracia memainkan ujung bajunya dengan gelisah.
“Nggak.” Final Sean. “Aku nggak akan berhenti buat
bilang suka sama kamu. Dan aku nggak akan pernah berhenti sampai dapetin kamu. Kecuali−,”
ucapan Sean terputus saat melihat Mahesa masuk ke dalam Kafe dan melambaikan
tangan ke arahnya.
“Kecuali apa Sean?”
“Kalian udah lama nunggu di sini? Maaf agak telat,
tadi kejebak macet.” Ujar Mahesa.
Gracia langsung menoleh lalu tersenyum. “Nggak
apa-apa kok Kak Hesa.” Terpancar rasa suka sekaligus kagum saat melihat Mahesa.
Sean melihat senyuman itu, senyuman tulus milik
Gracia yang terkembang di wajahnya. Kapan terakhir Sean melihat senyum setulus
itu? Jawabannya tidak pernah.
Gracia yang awalnya duduk di depan Sean, berniat
pindah di samping Sean. Alasannya agar dia bisa melihat wajah Mahesa dengan
leluasa. “Kak Hesa duduk sini aja.” Ujar Gracia, sudah berpindah di samping
Sean.
Sebelum Mahesa duduk, ia berujar, “Eh, aku ke toilet
bentar ya.”
Selang beberapa detik Mahesa pergi, Gracia berdiri.
“Kamu mau ke mana? Tanya Sean.
“Nyusul kak Hesa.”
------------------------------------------
Gracia tidak salah dengar, Mahesa memanggil dengan
kata ‘sayang’ kepada seseorang lewat sambungan telepon.
“Iya sayang, di Kafe seberang Toko Buku. Kamu masuk
aja, nanti ada Sean sama Gracia.” Ujar Mahesa,
Mahesa keluar dari bilik toilet terkejut mendapati
Gracia menunggunya. “Kamu mau ke toilet?” tanya Mahesa.
Gracia menggigit bibir, sedikit ragu ketika hendak
berbicara. Namun, dia sudah bertekad ingin mengungkapkan perasaannya.
Persetan dengan apa nanti jawaban Mahesa. Persetan juga
dangan harga dirinya. Gracia hanya ingin mahesa tau kalau dirinya menyukai
Mahesa.
“Aku mau ngomong sama kak Hesa sebentar. Berdua aja.
Aku nggak enak karna ada Sean, jadi aku nyusul kak Hesa.” Ucapnya. Gracia
memberanikan menatap Mahesa.
Mendapati Mahesa mengangguk, Gracia melanjutkan
ucapannya. “Aku suka sama Kak Mahesa. Suka banget dari lama. Aku nggak mau
cuman sekedar dianggep sebagai adik. Aku mau lebih dari itu kak. Maaf kalau aku
lancang.”
Mahesa terdiam, lalu tersenyum. “Makasih udah jujur.
Tapi Cia, dengerin kakak baik-baik ya.” Pinta Mahesa, dan dijawabi anggukan
oleh Gracia. “Kakak udah ada Wilona.”
“Wilona?” cicit Gracia. Dia berusaha mengingat siapa
Wilona itu karena namanya terdengar tidak asing di telinganya.
Selang sepersekian detik, Gracia ingat WIlona itu
siapa. Gadis tinggi denan paras ayu, dan anggun. Ya, Mahesa pernah bercerita
kalau menyukai Wilona.
Gracia bisa menebak akan seperti apa kelanjutannya. Dia
bisa memerangi siapa saja yang menyukai Mahesa, tapi tidak dengan memerangi
Wilona.
“Gracia?” panggil Mahesa, melambaikan telapak
tangannya di depan wajah Gracia.
Gracia tersadar, lalu melangkah pergi.
------------------------------------------------------
Langkah Gracia terhenti kala melihat seorang gadis sedang
bercengkrama dengan Sean. Gadis cantik dengan tinggi semampai, dan anggun.
“Wilona…,” lirih Gracia. Dia kembali melangkahkan
kakinya,diikuti Mahesa di belakangnya.
“Kamu dari mana, kak?” tanya Wilona, dia tersenyum ke
arah Mahesa.
Mahesa ikut tersenyum, lalu menjawab, “dari toilet
sebentar, sayang. Kamu udah lama nunggu?” yang dijawab gelengan oleh Wilona. “Kenalin,
ini Gracia. Kalo sama Sean pasti kamu udah kenal.”
Wilona mengulurkan tangannya ke arah Gracia. Namun,
tidak dibalas. Gracia hanya duduk mematung di depan Wilona.
Merasa tidak ada balasan, Wilona berdehem. “Duduk
sini, kak.”
“Kalian sejak kapan pacaran?” celetuk Gracia.
Sean yang mendengar celetukan tersebut langsung
menyenggol kaki Gracia. Berniat agar Gracia tidak menanyakan hal tersebut. Namun,
Gracia tetaplah Gracia.
Mahesa berinisiatif menjawabnya. “Baru satu minggu,
Gracia.”
Gracia menatap Wilona. “Aku suka sama kak Hesa.” Gracia
menatap Wilona dengan datar. Tanpa sadar, air mata telah menggenang di pelupuk
matanya. “Apa kak Hesa nggak pernah cerita tentang aku ke kamu? Kenapa kak Hesa
yang selalu cerita tentang kamu ke aku? Kenapa kalian harus pacaran? Kenapa kamu
nggak pacaran sama Sean aja, atau orang lain?”
Wilona yang dibombardir pertanyaan hanya bisa
terdiam bingung. Dia menatap Mahesa untuk mencari jawaban atau sekedar
membantunya menjawab.
Akhirnya Sean yang angkat bicara. “Kalian mau pesan
apa?” tanya Sean ke Mahesa dan Wilona.
Gantian Mahesa yang menatap Gracia. “Aku pacaran
sama Wilona, karena aku yang suka. Dan kamu Gracia, tolong tahu batasan. Aku udah
hargai keputusan kamu karena udah jujur suka sama aku. Tapi,
pertanyaan-pertanyaan tadi, nggak pantes kamu tanyain ke Wilona yang nggak tau
apa-apa. Stop kekanakan Gracia!”
Gracia tiba-tiba berdiri, mengambil tas dan
handphonnya. “Maaf.” Hanya itu kata-kata yang terlontar dari belah bibirnya. Lalu
beranjak pergi.
Tidak, Gracia tidak hanya melangkah, tapi berlari, menabrak
siapa saja yang menghalangi jalannya.
Hingga bunyi klakson yang panjang menghentikan
langkahnya.
----------------------------------------------------
Comments
Post a Comment